Pawon: Jurnal Arsitektur
https://ejournal.itn.ac.id/pawon
<p><strong>PAWON: Jurnal Arsitektur</strong> is a scientific journal published by the Department of Architecture of the Faculty of Civil Engineering and Planning at Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang that accommodates research results and scientific thought products in the field of architecture and the built environment. Jurnal PAWON accepts articles both in English and Bahasa. This journal is scheduled 2 (two) times a year, January and July, and reviewed by independent reviewers with expertise in the field of architecture and the built environment.</p> <p>PAWON literally means "kitchen" in the Javanese language, which is derived from the root word awu or dust. Philosophically, we hope that PAWON will become a place to mix the novelty of knowledge in the field of architecture and the built environment. </p> <p>The editor invites all relevant parties to contribute to publishing scientific articles that have never been published before. For manuscripts, online submission is simply to visit the link <a href="https://ejournal.itn.ac.id/index.php/pawon/about/submissions">HERE</a>, and for further information, you can contact us at <a href="mailto:%20jurnal_pawon@scholar.itn.ac.id">jurnal_pawon@scholar.itn.ac.id</a></p> <p>Pawon: Jurnal Arsitektur is proudly collaborating with the <a href="https://drive.google.com/file/d/1hqiCY-sZfj9ZdvN-_Nz-aPbvM9-21eu5/view?usp=sharing">Indonesian Institute of Architects</a>:<br>Our Journal has been featured on<strong> SINTA (4)</strong> based on<a href="https://drive.google.com/file/d/1KJrtQv1M2hjpiHOZVm_1jAgWMq9VkiQb/view?usp=sharing"> KEPMENRISTEK 72/E/KPT/2024</a> valid for five years from vol 7 no 2 2023 to 2028<br><br><span style="box-sizing: border-box; margin: 0px; padding: 0px;">To support our financing and <span style="box-sizing: border-box; margin: 0px; padding: 0px;">management, <strong>we request a small payment </strong></span><strong>contribution</strong> from the author after the desk review process.</span> <br>If you want to know this in advance, please get in touch with us. <br><br>Indexing and Abstracting :<br><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/7444">SINTA</a> | <a href="https://scholar.google.com/citations?authuser=6&user=El07tysAAAAJ">Google Scholar</a> | <a href="http://garuda.ristekbrin.go.id/journal/view/17325">Garuda</a> | <a href="https://www.worldcat.org/search?q=pawon+jurnal+arsitektur&qt=owc_search">WorldCat</a> | <a href="https://onesearch.id/Repositories/Repository?search=PAWON&btn=Search">OneSearch</a> | <a href="https://search.crossref.org/?q=+2597-7636">Crossref</a> | <a href="https://index.pkp.sfu.ca/index.php/browse/index/9679">PKPIndex</a> | <a href="https://www.neliti.com/journals/pawon">Neliti</a> | <a href="https://moraref.kemenag.go.id/archives/journal/98893412975003144">Moraref</a></p>Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malangen-USPawon: Jurnal Arsitektur2597-7636FENOMENA PERUBAHAN MATERIAL ATAP JOGLO PADA RUMAH JOGLO BANYUMASAN
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/14428
<p><em>Arsitektur merupakan perwujudan identitas budaya yang memiliki proses kultural dan bersifat internal yang utamanya pada masyarakat jawa yang dalam pengetahuan membangun rumah dilakukan dengan tradisi, dengan cara sederhana, namun perubahan demi perubahan makna rumah pada masyarakat jawa semakin keluar dari nilai budaya jawa, akulturasi yang terjadi dari masa ke masa yang terpengaruh pada budaya barat karena letak geografisnya, bisa dilihat dengan adanya perbedaan material pada atap joglo yang ada di Banyumasan, Bagaimana fenomena tersebut dan adanya Fenomena berkelanjutan apa yang ada pada rumah joglo Banyumasan serta karakteristik pembeda dari bangunan rumah joglo pada umumnya dan penjelasan terjadinya perbedaan dalam fenomena singkronasi kebiasaan masyarakat, Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitaif fenomenologi yang fokus pada pengalaman dalam karakteristik rumah joglo Banyumasan serta penjelasan perubahan material atap dari joglo pada umumnya, dilakukan juga observasi lapangan dan wawancara, hasilnya fenomena perubahan material atap joglo pada rumah joglo Banyumasan terlihat bahwa anggapan material seng memiliki kualitas serta efisien dalam teknis pemasangan yang lebih baik di bandingkan genteng pada masa itu, terlihat dari sampel rumah joglo Banyumasan pada lokasi desa petir, pakunden, bantar, dan tinggarjaya penggunaan material atap seng pada desa petir, pakunden, dan tinggarjaya lalu penggunaan material asbes pada sampel desa bantar</em><strong><em>.</em></strong></p> <p><em> </em></p>Agil Satrio PambudiNoor Cholis IdhamJohanita Anggia Rini
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-31100111810.36040/pawon.v10i01.14428DARI RUANG SISA KE DESTINASI WISATA: REDESAIN SEKANAK SIDEWALK MELALUI PENDEKATAN CREATIVE PLACEMAKING
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/16671
<p><em>Revitalisasi kawasan tepian air seringkali terjebak pada beautifikasi fisik semata tanpa berhasil menghidupkan vitalitas sosial kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep redesain koridor Sekanak Sidewalk, Palembang, yang saat ini mengalami degradasi fungsi spasial sebagai ruang sisa (lost space). Menggunakan Creative Placemaking sebagai tools, penelitian ini mensintesiskan data observasi lapangan ke dalam strategi intervensi spasial. Hasil perancangan menawarkan dua strategi utama: (1) Reaktivasi memori kolektif melalui integrasi moda transportasi; dan (2) Penciptaan tepian hibrida yang menggabungkan fungsi ekologis ruang terbuka hijau dan ekonomi mikro. Implementasi desain ini mentransformasi Sekanak dari sekadar jalur lintasan menjadi destinasi wisata. Penelitian menyimpulkan bahwa integrasi elemen budaya lokal dan aktivitas ekonomi kreatif merupakan kunci keberlanjutan regenerasi kawasan anak sungai di kota bersejarah.</em></p>Syifa Rahmi Meliansari SyifaRakhmat Fikran Zuhair RakhmatEvawani Ellisa Evawani
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001193010.36040/pawon.v10i01.16671Peran Tata Ruang Dalam Meningkatkan Kenyamanan Dan Aksesibilitas Lansia
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/14706
<p><em><span style="font-weight: 400;">Peningkatan jumlah lansia di Indonesia menuntut penyediaan fasilitas hunian yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, emosional, dan sosial mereka secara menyeluruh. Salah satu aspek penting dalam perancangan fasilitas hunian lansia adalah tata ruang yang mendukung kenyamanan, aksesibilitas, dan orientasi spasial yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran tata ruang dalam menunjang kenyamanan dan aksesibilitas penghuni lansia melalui studi kasus pada dua fasilitas panti wreda di Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi lapangan, wawancara, dokumentasi visual, dan studi literatur. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori Spatial Configuration, space syntax, affordance, serta Environmental Press untuk mengevaluasi keterbacaan, keterhubungan, dan respons penghuni terhadap ruang. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan lingkungan hunian lansia yang inklusif, ramah pengguna, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup.</span></em></p>Agharida Naurah Diyani Dyan Agustin
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001314610.36040/pawon.v10i01.14706Kajian Keberlanjutan Kawasan Kampung Wisata Keramik Dinoyo Malang Berbasis Arsitektur Lingkungan Dan Perilaku
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/16835
<p><em>Masyarakat di kawasan Dinoyo, memiliki sejarah panjang dalam menggeluti profesi sebagai pengrajin keramik. Sekitar tahun 1980 hingga 1990, merupakan masa kejayaan bagi para pengrajin, dengan produk keramiknya yang berupa: peralatan makan dan minum; perabotan rumah tangga dan dekorasi; serta souvenir dan kerajinan khas. Beberapa tahun kemudian, produk keramik tersebut mulai kurang diminati serta munculnya pesaing baru dengan produk modern, hal tersebut menjadikan Pabrik Keramik Dinoyo yang menjadi ikon di kawasan itu tutup. Tutupnya Pabrik tersebut pada tahun 2003, menjadikan para pekerja yang berpengalaman dalam memproduksi keramik berusaha membuka usaha rumahan dengan produk yang sama dengan produk yang dihasilkan pabrik. Masyarakat yang berdomisili di kawasan pabrik, berinisiatif untuk melestarikan produk yang dulu dapat menjamin penghidupannya dengan membentuk Paguyuban Keramik Dinoyo yang akhirnya menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata yang menampilkan produk unggulan dari masing-masing pengrajin, melengkapi fasilitas workshop untuk melatih para peminat produk keramik guna belajar dan memproduk keramik. Banyak hal yang perlu dibenahi dan dilengkapi pada prasarana maupun sarana kawasan agar menjadikan wisatawan merasa kerasan dan nyaman saat berwisata. Sejalan dengan adanya ancaman akan eksistensi fasilitas wisata ini, maka prinsip keberlanjutan perlu diusahakan, salah satunya adalah cara pengelolaan dengan metoda community based tourism yang melibatkan masyarakat lokal pada saat operasionalnya</em><em>.</em></p>Bhaga AninditatamaAdhi Widyarthara
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001476010.36040/pawon.v10i01.16835PENGGUNAAN MATERIAL KACA DALAM UPAYA PENURUNAN SUHU DALAM RUANG
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/16576
<p><em>Kondisi</em><em> iklim lingkungan ruang luar makin lama dirasakan semakin tidak nyaman hal ini dikarenakan adanya peningkatan panas yang berdampak pada tingkat kenyamanan termal di dalam bangunan. Guna mengatasi permasalahan ini, maka diperlukan suatu penyelesaian dengan membuat kondisi ruang dalam yang nyaman sesuai aktivitas tanpa menggunakan penghawaan buatan (AC) maupun penghawaan alami.</em><em>.</em></p> <p><em>Orientasi bangunan menjadi faktor penentu dari keberhasilan menurunkan suhu udara di dalam bangunan. Dinding yang menghadap ke matahari secara langsung menjadi sisi yang diutamakan, maka dibuatlah suatu material yang dapat mengakomodasinya.</em></p> <p><em>Melihat uraian di atas, maka intensitas panas matahari menjadi penentu terhadap keberhasilan dalam pencapaian tingkat kenyaman termal di dalam bangunan. Semakin kuat intensitas panas matahari semakin baik dalam tingkat penurunan kondisi suhu udara tersebut.</em></p> <p><em>Selain itu yang harus diperhatikan adalah</em><em> keberagaman aktivitas akan menentukan luasan material dinding yang digunakan.</em></p>Debby Budi SusantiGaguk SukowiyonoAdhi Widyarthara
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001617210.36040/pawon.v10i01.16576Eksplorasi Efisiensi Energi dan Termal Material Lokal Berkelanjutan: Dasar Penerapan Arsitektur Bioklimatik di Banjarmasin
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/16310
<p>Meningkatnya kebutuhan energi bangunan di Banjarmasin mendorong upaya konservasi energi. Di sisi lain, perubahan iklim juga menekankan urgensi pengembangan arsitektur berkelanjutan di Banjarmasin. Sebagai kota beriklim tropis lembap, Kota Banjarmasin membutuhkan penerapan strategi arsitektur bioklimatik untuk meningkatkan efisiensi energi dan kenyamanan termal bangunan. Salah satu solusi yang layak, dan sangat dibutuhkan dalam penelitian ini, adalah penggunaan material lokal dengan karakteristik termal dan ekologis yang dapat menjadi dasar penerapan desain arsitektur bioklimatik di Banjarmasin.</p> <p>Arsitektur bioklimatik adalah pendekatan desain inovatif yang memadukan kondisi iklim lokal, praktik budaya, dan material berkelanjutan untuk menciptakan bangunan hemat energi dan ramah lingkungan. Pendekatan ini mendorong kemandirian energi dengan mengurangi kebutuhan energi untuk produksi dan transportasi material bangunan, serta mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin buatan.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menguji efisiensi termal material lokal berkelanjutan sebagai dasar penerapan desain arsitektur bioklimatik di Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan observasi arsitektur vernakular, analisis iklim, pengujian laboratorium material (konduktivitas termal, densitas, kapasitas panas), dan simulasi efisiensi energi, dengan validasi model menggunakan metode statistik RMSE dan MBE.</p> <p>Hasil penelitian menghasilkan konsep dasar desain arsitektur bioklimatik berbasis material lokal, yang dapat meningkatkan efisiensi energi, mendukung strategi ekonomi hijau, dan berkontribusi terhadap pencapaian SDGs (Tujuan 7, 11, dan 13).</p>Farah HafizhaAnnisa YuniarNisa Raisa Shaleha
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001739410.36040/pawon.v10i01.16310Kajian Tipologi Citra Sebagai Wujud Akulturasi Budaya di Kompleks Alun-Alun Tuban
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/14690
<p data-start="485" data-end="1533">Kota Tuban merupakan kota pesisir yang terletak strategis di sepanjang Jalur Pantura Jawa Timur. Letak strategis menjadikan kota ini sebagai titik masuknya berbagai kebudayaan, dari kebudayaan Hindu-Budha, Kolonial, Timur Tengah, Tiongkok, hingga kebudayaan Arab. Masuknya keanekaragaman kebudayaan menjadikan Kompleks Alun-alun Tuban sebagai kota multikultural dengan citra yang khas sesuai dengan masuknya kebudayaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana akulturasi budaya mempengaruhi tipologi citra pada bangunan dan plaza di kompleks Alun-alun Tuban. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan cara observasi langsung, dokumentasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi budaya menghasilkan keanekaragaman tipologi citra yang memperkuat identitas kota Tuban sebagai pusat aktivitas sosial dan ekonomi yang memiliki nilai sejarah. Tipologi citra yang terbentuk tidak hanya mencerminkan identitas lokal Tuban, tetapi menunjukkan transformasi budaya yang berkelanjutan. </p>Siti Cintya Mahardika AnugrahAmi Arfianti
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-3110019511010.36040/pawon.v10i01.14690ARCHITECTURAL AND FUNCTIONAL INTEGRITY OF AL WAHHAB MOSQUE IN BONTANG IN RELATION TO CULTURAL HERITAGE
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/15608
<p><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Masjid Al-Wahhab Lama di Kota Bontang, yang didirikan pada tahun 1789, merupakan situs warisan budaya yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa, Bugis, Kutai, dan Banjar melalui arsitektur atap tiga tingkat dan penggunaan kayu ulin. Kajian ini penting untuk memahami tantangan pelestarian akibat perubahan material selama renovasi tahun 2002, yang mengganti kayu ulin dengan beton dan baja ringan, sehingga mengancam integritas arsitektur. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pengurus masjid, dan analisis dokumen sejarah untuk mengevaluasi perubahan bentuk dan strategi konservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan biaya dan kepraktisan menyebabkan pelanggaran prinsip intervensi minimal dan reversibilitas, meskipun restorasi mendukung fungsi keagamaan. Strategi konservasi di masa mendatang harus memprioritaskan retensi material asli, desain reversibel, dan kompatibilitas dengan bangunan baru. Kajian ini menggarisbawahi pentingnya menyeimbangkan pelestarian warisan dan adaptasi fungsional untuk memastikan Masjid Al-Wahhab tetap relevan sebagai warisan hidup bagi masyarakat Bontang.</span></span></em></p>Dinda Fauziah Djaelani
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-31100112714410.36040/pawon.v10i01.15608IDENTIFIKASI KONDISI DAYA TARIK PARIWISATA KEBANGSAAN DI KOTA BLITAR
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/16522
<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengenali dan menganalisis sejauh mana daya tarik pariwisata kebangsaan di Kota Blitar, menggunakan pendekatan 6A Pariwisata, yaitu Attraksi, Aksesibilitas, Fasilitas, Kegiatan, Layanan Pendukung, dan Penginapan. Kota Blitar memiliki banyak potensi menjadi destinasi wisata kebangsaan karena nilai sejarahnya sebagai tempat lahir dan istirahat Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, serta adanya beberapa situs bersejarah seperti Istana Gebang, Museum PETA, dan Perpustakaan Bung Karno. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan pengumpulan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua elemen dalam 6A sudah berkembang cukup baik, tetapi masih ada beberapa masalah, seperti promosi digital yang kurang memadai, kualitas fasilitas pendukung yang belum maksimal, serta kurangnya koordinasi antar pihak terkait. Daya tarik utama wisata kebangsaan di Kota Blitar adalah nilai sejarah dan identitas nasional yang terkandung di setiap situs wisata. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kerja sama antar sektor dalam memperkuat branding dan pengembangan destinasi wisata berkelanjutan berdasarkan nilai kebangsaan</em><em>.</em></p>Natan Waskito FirtantoTitik PoerwatiIda Soewarni
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-31100111112610.36040/pawon.v10i01.16522ARSITEKTUR SEBAGAI MEDIA INKLUSIF: PEMANFAATAN MODEL DIGITAL TERINTEGRASI SEBAGAI SARANA ORIENTASI AWAL RUMAH ADAT UNTUK PENELITIAN DAN PENGAJARAN
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/17501
<p><em>Rumah adat merupakan warisan arsitektur yang menyimpan pengetahuan tentang tata ruang, konstruksi, material, serta nilai budaya. Dalam kegiatan penelitian dan pengajaran, pemahaman terhadap rumah adat perlu diawali dengan orientasi awal, yakni pengenalan bentuk bangunan, organisasi ruang, hubungan antar ruang, sirkulasi, dan elemen penting sebelum dilakukan kajian yang lebih mendalam. Namun, orientasi awal melalui kunjungan lapangan tidak selalu dapat dilakukan secara optimal karena keterbatasan jarak, waktu, dan biaya, serta kondisi bangunan yang tidak selalu memungkinkan untuk diamati secara intensif. Di sisi lain, media pembelajaran konvensional seperti gambar dua dimensi dan foto sering belum mampu menjelaskan kualitas ruang secara utuh, bertahap, dan mudah ditelusuri kembali. Kondisi ini menegaskan urgensi pengembangan media yang lebih inklusif, yaitu media yang dapat membantu beragam pengguna, baik peneliti maupun mahasiswa untuk memperoleh pemahaman awal yang setara, jelas, dan mudah diakses tanpa sepenuhnya bergantung pada kehadiran fisik di lokasi. Penelitian ini memposisikan arsitektur sebagai media inklusif melalui pemanfaatan model digital terintegrasi sebagai sarana orientasi awal rumah adat. </em><em>Model tersebut berupa representasi tiga dimensi yang diperkaya informasi bangunan yang tersusun sistematis dan saling terhubung, meliputi fungsi ruang, ukuran, material, sistem struktur, serta narasi penjelasan elemen. Luaran penelitian diharapkan berupa kerangka pemanfaatan model digital terintegrasi yang mendukung orientasi awal secara lebih jelas, efektif, dan dapat digunakan ulang untuk kebutuhan penelitian serta pengajaran arsitektur tradisional.</em></p>Moh. Syahru Romadhon SholehNurul AiniSri Winarni
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-31100114515810.36040/pawon.v10i01.17501IDENTIFIKASI KONDISI EKSISTING OBJEK WISATA DENGAN PENDEKATAN EKOWISATA
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/15671
<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan kondisi pengembangan dua destinasi ekowisata di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut dan Mangrove Rambai Center. Keduanya merupakan kawasan wisata yang memiliki nilai ekologis tinggi dan didukung oleh keberadaan flora dan fauna khas, seperti hutan mangrove dan bekantan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui survei lapangan dan wawancara mendalam dengan masyarakat serta pemangku kepentingan. Analisis dilakukan berdasarkan komponen 4A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, dan Ancillary) dalam pengembangan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua destinasi memiliki daya tarik yang kuat dan memenuhi sebagian besar indikator 4A, namun masih terdapat kekurangan seperti fasilitas umum yang belum memadai, khususnya pada sarana amenitas seperti toilet umum, air bersih, dan papan informasi. Temuan ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan yang berkelanjutan, pelibatan komunitas lokal, serta peningkatan fasilitas pendukung untuk mendukung ekowisata yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Penelitian ini merekomendasikan perluasan studi dengan melibatkan persepsi pengunjung dan penilaian dampak ekologis untuk perencanaan pariwisata berkelanjutan di masa depan.</em></p>Muhammad Yusuf RidhaniAndi Achmad PriyadharmaAmar Rizqi Afdholy
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-31100115917210.36040/pawon.v10i01.15671EFEKTIVITAS UPAYA PENGENDALIAN KELEMBAPAN DALAM RUMAH SUBSIDI UKURAN 6X10 MELALUI APLIKATIF DEHUMIDIFIER ALAMI, TANAMAN TANDUK RUSA (PLATYCERIUM BIFURCATUM)“
https://ejournal.itn.ac.id/pawon/article/view/17583
<p><em>High indoor humidity is a common issue in subsidized housing in tropical regions, particularly in compact dwellings with limited ventilation, such as 6 × 10 m housing units. Excessive humidity negatively affects indoor air quality, building durability, and occupants’ health. This study aims to evaluate the effectiveness of a natural dehumidification approach using </em>Platycerium bifurcatum<em> (staghorn fern) in controlling indoor humidity in subsidized housing. The research employed an experimental method with before-and-after measurements of indoor relative humidity, conducted under controlled occupancy and ventilation conditions. Humidity levels were monitored using digital hygrometers over a defined observation period to assess changes resulting from the application of the plant. The results indicate that the integration of </em>Platycerium bifurcatum<em> contributes to a measurable reduction in indoor humidity levels, improving thermal comfort and indoor environmental quality without additional energy consumption. This natural dehumidification strategy offers a low-cost, energy-efficient, and environmentally adaptive solution suitable for subsidized housing in tropical climates. The findings support the application of nature-based solutions in residential design and contribute to sustainable housing development aligned with the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), and SDG 13 (Climate Action)</em></p>Ade Ulul AzmiKomang Ayu Laksmi Harsinta Sari
Copyright (c) 2026 Pawon: Jurnal Arsitektur
2026-01-312026-01-311001173182