open access

Abstract

Dari hasil evaluasi pada pelaksanaan pekerjaan proyek Jalan Rel Kereta Api Sepanjang 36.200 M'sp Lintas Kalisat-Banyuwangi pada tahun anggaran 2012 dalam pelaksanaannya telah mengalami keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dari waktu yang sudah ditentukan. Hal ini terbukti dengan terlihatnya pekerjaan yang belum selesai dikerjakan diperkirakan mengalami keterlambatan mencapai 40% dari waktu yang telah ditentukan. Oleh katena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dan mendapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhinya serta menentukan strategi yang harus dilakukan kontraktor untuk mengatasi permasalahan tersebut

Metodologi analisis data yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis regresi linier berganda terhadap jawaban dari kuesioner yang disebarkan kepada 42 responden dari pihak kontraktor, Owner dan konsultan  pengawas.

            Berdasarkan hasil penelitian dengan uji F didapatkan bahwa secara bersama-sama faktor Lingkungan Kerja (X1), Material (X2), Peralatan (X3), Tenaga Kerja (X4), Metode Pelaksanaan Pekerjaan (X5), Metode Penjadwalan Pekerjaan (X6), Keuangan (X7), berpengaruh secara bersama-sama terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dengan nilai Fhitung = 12,388 > Ftabel = 2,294. Namun dari uji t secara sendiri-sendiri faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan adalah Faktor Material dengan nilai thitung = 2,311 > dari ttabel = 2,032, Faktor Tenaga Kerja dengan nilai thitung = 2,148 > dari ttabel = 2,032, Faktor Metode Penjadwalan Pekerjaan dengan nilai thitung  = 2,172 > dari ttabel = 2,032 dan Faktor Keuangan dengan nilai thitung = 2,285 > dari ttabel = 2,032. Faktor yang paling dominan ditunjukkan oleh nilai β terstandarisasi tertinggi, yaitu faktor Metode Penjadwalan Pekerjaan dengan nilai Koefisien β sebesar 0,303. Strategi untuk mengatasinya adalah mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan pekerjaan tersebut dalam hal ini adalah Kementerian Perhubungan khususnya Dirjen Perkereretaapian dan pihak operator yaitu PT. KAI (Kereta Api Indonesia).