open access

Abstract

Masalah yang sering terjadi di proyek konstruksi adalah penyerahan hasil proyek yang Difabel banyak ditemui di Indonesia, termasuk di Kota Malang.  Sejauh ini untuk anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel), pemerintah telah menyediakan fasilitas layanan pendidikan yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), namun tidak disadari bahwa sistem pendidikan SLB tersebut, telah membangun tembok eksklusifisme bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal tersebut selama ini telah menghambat proses saling mengenal antara anak-anak difabel dengan anak-anak non-difabel. Akibatnya dalam interaksi sosial, di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasiterpinggirkan dalam dinamika sosial. Masyarakat menjadi tidak akrab dengan kehidupan kelompok difabel. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian yang integral dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Untuk itu, perlu diselenggarakan ruang bagi masyarakat penyandang difabel untuk mempersiapkan diri menghadapi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep rumah singgah untuk difabel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Rumah singgah merupakan tempat berkumpulnya difabel untuk mempersiapkan diri berbaur dengan masyarakat dan meningkatkan kualitas diri dengan mendapatkan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan.